Halloooooo! Hari ini gue post 2 part sekaligus! ;)
Maaf baru bisa post sekarang.. Gue baru selesai UAS soalnya u,u
Just enjoy my stories yaaa
Still Loving You : I
Miss You (Part 3)
Shilla
berlari menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan. Dengan cepat, ia memakan
setengah dari roti bakar yang sudah Pricill siapkan untuknya. “Aduh, gara-gara
Kak Icil berangkat pagi, nih. Jadi gak ada yang bangunin gue. Kesiangan deh,”
dumel Shilla sambil memakai sepatunya. Sedetik kemudian, “AH! TAS GUEEEEE”
pekiknya lalu kembali berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Beruntung, karena
hari ini ia tak lagi memakai kostum2 aneh seperti saat MOS hari pertama.
“Huft,
kalau gue lupa bawa nih tas, gak tau deh kabar gue nanti. Yakali nyampe sekolah
malah gak bawa tas.” Ujar Shilla. Namun pandangannya tiba-tiba tertuju ke
sebuah kalung yang terbuat dari emas putih, dengan liontin berbentuk bintang.
Shilla berjalan mengambil kalung itu. “Raga, kamu dimana sekarang? You know?
I really really miss you,”
***
Shilla
turun dari taksi, dan berjalan cepat memasuki gerbang sekolahnya. “Untung belum
mas-”, “CILLAAAAAA!!” panggil Ify memotong gumaman Shilla. Shilla mendelik sebal,
lalu menolehkan wajahnya kearah perpustakaan. Ia menatap Ify yang sedang
berlari kecil kearahnya.
“Pagi,
Cilla!” sapa Ify ceria. “Hm,” sahut Shilla pendek. “Tumben nyampenya siang?”
Tanya Ify. “Tau tuh Kak Icil. Berangkatnya pagi banget. Gue aja sampe bangun
kesiangan tau nggak? Gue bangunnya jam 06.10, yaampuunnn!! Demi apa gue bangun
jam segitu?? Dengan keadaan Jakarta yang macetnya naudzubillah, gue bangun jam
segitu? Belum lagi tadi hampir 10 menit gue nungguin taksi yang kosong.
Alhasil, gue baru berangkat jam 06.40! Untung aja rumah gue nggak terlalu jauh
dari sekolah, dan ada jalan pintasnya. Kalau nggak, mungkin udah jam 07.15 gue
baru nyampe ke sekolah,” omel Shilla menggebu-gebu. Sedangkan Ify hanya melongo
mendengar omelan Shilla. “Seharusnya lo lebih santai, Cil. Kan hari ini kita
ngumpulnya jam setengah 8,” ujar Ify menenangkan Shilla. “Btw, kenapa lo gak
bareng Kak Sivia aja? Dia sepupu lo, kan?” lanjut Ify.
“Ify
sayangkuhh, rumah Kak Ia(panggilan Shilla ke Sivia) kan beda arah.. Pulang sekolah
aja, gue beloknya ke kanan, dianya ke kiri. Itu sama aja gue ngerepotin dia.
Lagipula, gue kan kesiangan. Dia pasti berangkat pagi,” jelas Shilla. Ify
mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba, Iphone Shilla berbunyi. Panggilan
masuk. Shilla merogoh sakunya, dan melihat siapa yang meneleponnya pagi-pagi.
Kak Icil’s
calling
Shilla langsung menerima panggilan itu.
Pricill : Hallo,
Shilla? Lo udah sampe di sekolah, kan? Gak ada barang lo yang ketinggalan, kan?
Nggak ada yang lecet, kan? Lo udah sarapan, kan? Lo naik taksi? Sopirnya nggak
ngapa-ngapain lo, kan, say?
Shilla : Udah, dan gue dalam keadaan baik-baik aja.
Pricill : Singkat banget jawabnya? Lo marah sama gue ya?
Duh, maaf yaa. Soalnya-
Shilla : Berisik
lo. Bayangin, gue sampe bangun kesiangan tau nggak? Untung aja gue gak telat.
Kalau sampe gue telat, gue gak bakal negur lo selama sebulan FULL!
Pricill : WHAT?
Duh, adikku Ashilla sayang, jangan gitu dong.. Ntar gue curhat sama siapa kalau
gue lagi galau??
Shilla : Ya itu
derita lo. Gila aja, lo tau kan kalau gue masih belum bisa bangun awal? Masa
iya lo tega ninggalin gue sendirian dirumah, pagi-pagi lagi.
Pricill : Gini
ya, Shill. Tadi pagi, gue mau ngumpulin tugas. Nah, tugas gue itu ternyata
belum selesai. Sedangkan itu tugas dikerjainnya bareng temen gue. Jadilah gue
berangkat pagi buat nyelesaiin tuh tugas. Deadline-nya itu hari ini..
Shilla : Udah,
deh. Gue badmood banget. Gue pulang jam 11, jemput gue nggak pake telat.
-Klik-
Shilla
memutuskan sambungan teleponnya bersama Pricill. “Ckckck, sadis banget lo,
Shill. Kak Pricill pasti uring-uringan, deh.” Decak Ify. “Biarin. Siapa suruh
ninggalin gue pake nggak ada kabarnya segala?” omel Shilla. Ify hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah perbincangan singkat antara keduanya,
pemberitahuan dari panitia MOS terdengar. Semua peserta MOS segera berkumpul ke
lapangan utama untuk melaksanakan MOS hari kedua.
***
Waktu
istirahat tiba. Sesekali Shilla menatap Ify yang sejak dimulainya MOS, hanya
diam. Sampai beberapa kali, Ify ditegur oleh Rio & Sivia karena tidak
memerhatikan.
“Py, lo kenapa? Kok jadi pendiem gini? Ada masalah?”
Tanya Shilla. Ify menoleh kearah Shilla, lalu tersenyum kecil. “Gue gapapa kok,
Shill. Gue Cuma lagi mikir aja,” jawab Ify. Shilla mengernyitkan keningnya,
“Mikirin apa?”. “Gue kepikir aja sama tweet lo tadi malem. Apa iya gue
harus move on dari Kak Rio? Lagipula, gue liat, Kak Acha itu orangnya
baik banget. Nggak mungkin Kak Rio bakal ngelepasin dia begitu aja,” jawab Ify
lirih. “Ya ampun, Fy. Gue tadi malem Cuma bercandaaa. Jangan dimasukin dalam
hati. Bener kata lo. Masa lo baru aja maju perang, lo langsung mundur gitu aja?
Sedangkan elo belum ngelakuin apa-apa buat ngejar Kak Rio. Please,
jangan nyerah gitu aja,” mohon Shilla. Ify hanya tersenyum miris, “Bakal gue
usahain,”
Shilla
berjalan kearah gerbang sekolah dengan langkah gontai. Ia merasa kasihan dengan
sahabatnya, Ify.
Ify
bisa dibilang sangat susah untuk bisa menyukai seseorang. Dan jika Ify sudah
menyayangi seseorang, pasti akan susah untuk membuatnya move on dari
orang tersebut.
Shilla
kembali menghela nafas. Ini salahnya! Padahal ia hanya bermaksud bercanda. Ia
tak menyangka kalau Ify akan menganggapnya serius.
‘tin
tin’, Shilla terkesiap saat mendengar suara klakson mobil dari arah
depannyaa. Sang pengemudi mobil membuka kaca jendelanya, “Shilla, ayo masuk!”
ajak sang pengemudi yang ternyata Pricill. Shilla mendengus, lalu memasuki
mobil. Pricill segera menjalankan mobilnya.
“Kaget
gue ngeliat elo, Kak,” ujar Shilla. Pricill mendelik, “Heh bocah, gue daritadi
udah berenti didepan elo. Udah gue panggil-panggil, lo gak denger. Yaudah, gue
bunyiin klakson. Makanya, jangan ngelamun,” balas Pricill. Shilla hanya diam,
tak menanggapi ucapan Pricill.
***
SKIP BENTAR! :3
Halloo! Author
mau minta tolong nihh
Buat yang baca,
tolong promosiin cerbung2 ini secara besar-besaran dongg
Terserah, deh.
Mau promosiin di Facebook/twitter
Ntar yang
beruntung, Author bakal kasih 1 cerpen bonus buat orang itu;)
Alur ceritanya
bisa di request, couple utamanya bisa di request, pokoknya akan Author buatin
sesuai requestnya :)
Tapi hanya
untuk 2 orang ya?
Jadi,
masing-masing request 1 cerita
Semakin banyak
yang baca cerita2 Author,
semakin
semangat juga Author lanjutin ceritanya;)
Twitter Author
- @Karima_NM
Yang mau nanya-nanya,
bisa di Ask.fm – http://ask.fm/KarimaNadaMdna
;)
Terimakasihhhh
:**
***
Ify
menatap langit malam dari jendela kamarnya. Beberapa kali ia menghela nafas.
Karena ntah mengapa, dadanya terasa sesak. Ia sangat ingin menangis saat itu
juga! Tetapi air matanya sangat sulit untuk dikeluarkan.
“Kenapa
nasib gue dalam hal ‘percintaan’ selalu mengenaskan, ya?” ucapnya pada diri
sendiri. “Tiap gue lagi suka sama orang, pasti adaa aja halangannya,”
sambungnya. Ify kembali menghela nafas. Kali ini, air matanya sudah berada di
pelupuk mata. “Ify, lo nggak boleh nangis. Lo nggak boleh terlihat lemah!” ujar
Ify menyemangati dirinya sendiri. Lalu tangannya beralih mengambil Iphone-nya,
dan membuka aplikasi twitternya. Matanya mulai membaca tweet-tweet yang berada
di beranda twitternya.
@MarioRvndtya :
Malam luvvy @AchaVanessa {} How r u there? Miss u so bad :(
Ify menghela nafas untuk yang ke-sekian kalinya. “Lo harus
kuat, Fy! Kak Rio juga punya kehidupan sendiri. Lo harus inget itu!” ujar Ify
mengingatkan dirinya sendiri. Kemudian matanya kembali membaca tweet yang
lainnya.
@AchaVanessa :
@MarioRvndtya Malam jugaaa luvvykuuuu:* I’m so fine here. Wht about u? I miss u
so so so so bad too:’(
@AshillaNyyr :
Obo obooo*KakIcilsaidkalauchatansamaKakFero:v* #poke @PrcllaA_ :p
@PrcllaA_ :
@AshillaNyyr ASHILLAAA! Lo suka banget buka aib guee-_-
@AshillaNyyr :
HA to the HA! @PrcllaA_
Ify terkekeh membaca tweet kedua kakak-beradik itu. Dimana
keduanya saling menyayangi, walaupun sering bertengkar karena hal-hal kecil sekalipun.
“Lo beruntung banget punya kakak kayak Kak Pricill, Cil. Gue jadi sedikit envy
sama lo. Dimana lo bisa curhat sama orang yang sangat sayang sama elo,” gumam
Ify. “Tapi gue lebih bangga lagi punya sahabat kayak lo, Cil. Karena elo selalu
ada disaat gue bener-bener butuh temen. Pas gue seneng, lo selalu ngedukung
gue. Dan disaat gue sedih, lo selalu ada buat menghibur gue,” lanjutnya.
@MarioRvndtya :
@AchaVanessa Syukur deh klu gtu:) Take care yourself in there ya luvvy{}
@AchaVanessa :
@MarioRvndtya Okeey. Thanks yaa luvvy<3 Kamu juga :)
@KkaFndyarga :
LoL Xd
@KkaFndyarga :
@MarioRvndtya bagus banget lo ya. Pake pacaran di sosmed segala :@ Gue tau kok
klu gue jomblo~
@MarioRvndtya :
Gue ngakak bro =)) Makanya cari P-A-C-A-R :P @KkaFndyarga
@KkaFndyarga :
Kampret lau Yo --“ @MarioRvndtya
Ify tertawa sepuasnya membaca tweet Cakka & Rio. “Ya
Allah, sempet-sempetnya mereka ejek-ejekan di sosmed kayak gini,”. Ify menatap
lama layar ponselnya, lalu mulai mengetikkan sesuatu.
@IfyNCalyssa :
Tau kok, kalau cinta itu gak harus saling memiliki. Cukup ngeliat ‘dia’ senyum,
gue bisa ‘cukup’ bahagia :”) Paham maksud gue?
@PrcllaA_ : Gd
nite uweee @FeroA_ <3<3 Nice dream yeaaaa :**
@FeroA_ :
Gdnight too my uwe @PrcllaA_ Nice dream too sayang {} :*<3
@PrcllaA_ :
@IfyNCalyssa neng ipy jangan galau terus yaa ;p wkkw
@IfyNCalyssa :
@PrcllaA_ Gue galau grgr TL gue isinya orang pacaran semua kak *hiks
@PrcillaA_ :
@IfyNCalyssa Hahahaha. Emng lo-nya nggak ada calon / gebetan gitu?
@IfyNCalyssa :
@PrcllaA_ Ada sih. Tapi……. *sensor* :P
@PrcllaA_ :
Tapi apaan fy? @IfyNCalyssa :/ Gue Tanya shilla aja yaaa :p
@IfyNCalyssa :
Tanya aja coba :p Dia gak mungkin mau kasih tauuuu :PP @PrcllaA_
@AshillaNyyr :
@PrcllaA_ @IfyNCalyssa Hoyhoy! Lo berdua ngapain ngomongin gue? Ngepens yaa? ;P
Duh makaciii:**
@PrcllaA_ :
Jijay gue shill @AshillaNyyr @IfyNCalyssa
@IfyNCalyssa :
Geer banget dah ni anak-_- @AshillaNyyr @PrcllaA_
@AshillaNyyr :
Woy kak! Lo lgi dikamar sebelah. Ngapain juga lo bales mention gue? -_-v
@PrcllaA_
@PrcllaA_ : Eh,
iya juga ya? Wadohh, mulai-mulai dah gue-_- @AshillaNyyr
Ify tak menanggapi lagi mention dari 2 kakak beradik itu.
Sesekali ia tertawa jika membayangkan ekspresi keduanya. “Hftt, thanks ya guys,
karena kalian udah cukup menghibur gue malam ini,” ujarnya. Setelah me-log
out dari akun twitternya, Ify memutuskan untuk tidur ke alam mimpi.
***
Shilla
menatap langit malam diatasnya dari balkon kamar. Tiba-tiba saja cairan bening
itu keluar dari kedua matanya. Sehingga membuat beberapa aliran sungai kecil di
kedua pipi putihnya. Dengan cepat ia menghapus air matanya yang sempat keluar
itu. “Raga, aku kangen kamu. Kamu dimana? Udah 11 tahun kita nggak ketemu.
Kalau kamu ada di Jakarta, cari aku, Raga. Aku udah benar-benar kehilangan
jejak kamu,” lirih gadis itu. Air matanya kembali keluar. Menandakan bahwa
gadis itu benar-benar merindukan sosok ‘teman’ masa kecilnya.
Shilla
menatap kalung yang tengah ia genggam. Diciumnya kalung itu cukup lama, lalu ia
kembali menangis. Tidak, ia sebenarnya bukan gadis yang mudah menangis. Tapi
entah kenapa, setiap ia mengingat Raga, ia selalu menumpahkan semua yang ia
rasakan dengan air mata. Marah? Tidak. Benci? Tentu saja tidak. Kesal? Tidak
sama sekali. Ia hanya merasa, bahwa ia MERINDUKAN Raga! Itu saja.
“Kapan kamu akan menemui aku, Raga? Kapan? Aku udah
cukup capek nungguin kamu disini,” isaknya lagi. “Atau, apa kamu udah lupa sama
aku? Apa kamu udah lupa sama kenangan-kenangan kita, sehingga kamu nggak mau
cari aku?” sambungnya pilu. Isakannya semakin menjadi. Namun dengan cepat, ia
menghentikan isakannya. Tangannya kembali menghapus air matanya yang mengalir
sangat deras. Tetapi, setiap ia menghapus air mata itu, semakin deras pula
cairan bening itu keluar. Membuat Shilla hanya bisa pasrah, dan membenamkan
kepalanya diantara kedua lututnya. Semalaman itu yang Shilla lakukan hanyalah
Menangis.
Pemuda ini menatap gelang mungil yang berada ditangannya
saat ini. Matanya terus menatap langit tak berbintang. Sesekali ia menghela
nafas pelan. Matanya teralih kearah gelang yang sejak tadi terus ia genggam.
“Hallo, Ra. Kamu apa kabar? Aku harap, kamu selalu baik-baik aja,” pemuda itu
menggantung ucapannya. Kemudian, pemuda itu tersenyum perih, “Kamu tau, Ra? Aku
kangen kamu. Kangen sama kenangan-kenangan kita dulu,” ujarnya.
“Aku
gak mungkin lupain kamu, Ra. Seorang gadis kecil yang polos pada saat itu,”
pemuda tersebut mengambil nafas sejenak untuk menghilangkan sesak didadanya.
“Tapi, aku yakin. Sekarang, kamu pasti tumbuh menjadi sosok gadis yang cantik
& ramah. Seperti dulu, dan itu tidak akan berubah,” lanjutnya.
Meski kau kini
jauh disana
Kita memandang
langit yang sama
Jauh dimata
namun dekat dihati
Pemuda
itu bersenandung singkat. “Aku tau, Ra. Kamu pasti juga lagi memandang langit
malam. Seperti kebiasaan kamu dulu, yang memang sangat suka memandang langit,”
kemudian pemuda itu mencium gelang yang ia genggam tadi dengan lembut.
***
Shilla
menatap pantulan dirinya di cermin. Akibat ia menangis semalaman, matanya jadi
terlihat sembab. “Gak lagi, deh, gue nangis semalaman. Jera gue,” gerutunya
sambil memakai kacamatanya. Setelah dirasa cukup, ia segera turun untuk sarapan
bersama Pricill sang Kakak.
Di
ruang makan, Shilla sempat merasa bingung saat melihat sang Kakak yang sedang
makan terburu-buru sambil mengangkat telepon. Setelah Pricill menutup
teleponnya, ia segera menghampiri sang Kakak. “Lo kenapa, Kak? Kayaknya sibuk
banget, deh,” Tanya Shilla sambil mengoleskan selai cokelat ke rotinya.
Pricill
memasang sepatunya dengan tergesa-gesa, “Pagi ini gue ada janji sama dosen.
Jadi, gue harus berangkat pagi-pagi buat siapin artikel yang bakal gue
jelasin,” jawab Pricill. Ya, Pricill merupakan salah satu anggota BEM di
kampusnya saat ini. “Oh iya, gue berangkat duluan, ya. Gue udah telponin taksi
buat elo. Ntar pas pulang sekolah, gue gak bisa jemput elo. Lo naik taksi aja
ya,” lanjut Pricill cepat. Kakinya mulai melangkah untuk menaiki mobilnya.
Namun, tiba-tiba ia berbalik kearah Shilla. Shilla mengernyit heran, “Kenapa
lagi?” tanyanya. “Tadi, Mama nelpon gue. Katanya, mungkin hari ini pulang. Dan
kalau sempat, Mama & Papa yang bakal jemput lo. Tunggu aja kabarnya nanti,”
jawab Pricill sambil memasuki mobilnya. “Gue duluan. Bye! Jangan lupa sarapan,”
ujarnya. Setelah itu, mobilnya melaju meninggalkann halaman rumah.
Shilla
menggeleng-gelengkan kepalanya. “Untung Kak Pricill gak merhatiin mata gue.
Kalau dia ngeliat, kena amuk deh gue-_-” gumamnya pelan. Shilla mulai memakan
rotinya.
***
Setelah
upacara penutupan MOS selesai, Ify segera menarik tangan Shilla menuju taman
sekolah yang cukup sepi di pagi itu. “Mata lo kenapa? Kok bengkak gitu?”
tanyanya to the point. “Tadi malem gue begadang,” jawab Shilla singkat.
Ify menyipitkan matanya, “Nggak bakat boong lo kalau sama gue. Kalau lo
begadang, palingan Cuma ada lingkaran item di kantung mata lo, Cil. Lo pasti
abis nangis semalaman, kan? Dan itu PASTI gara-gara Raga. Iya, kan?” pasti Ify
sambil menekan kata ‘pasti’. Shilla menghela nafas, lalu mengangguk pelan.
Ify
menghembuskan nafasnya, lalu duduk disamping Shilla. “Cil, kalau lo jodoh sama
Raga, lo pasti bakal dipertemukan, kok. Cepat, ataupun lambat,” hibur Ify.
Shilla hanya menunduk. “Gue yakin. Raga pasti lagi nyariin lo sekarang. Jangan
berpikiran negatif dulu. Raga gak mungkin lupain kenangan kalian gitu aja. Itu
pasti sangat membekas diingatan dia,” ujar Ify. “Ditambah lagi, orang tua
kalian itu bersahabat. Suatu saat, pasti kalian bakal bertemu lagi. Percaya
sama gue,” hibur Ify lagi. Perlahan Shilla mulai tersenyum, ia menatap Ify,
lalu memeluk sahabatnya itu. “Thanks ya, Fy. Semoga ‘doi’ juga peka sama lo,
dan bisa bales perasaan lo,”
-To Be
Continued-
