Haiiii!! Ini cerpen baru gueee :3
Baidewey, tolong promosiin semua cerita yg ada di Blog gue donggg
Supaya banyak yg baca & buat gue makin semangat utk ngelanjutin cerita2nyaaah :3
Twitter : @Karima_NM
Facebook : http://facebook.com/karima.n.medina
***
Ketika Aku (Tak) Disampingmu...
Gadis ini duduk terdiam disalah satu sudut kantin sekolahnya. Matanya sibuk memandang kearah lapangan futsal.
"Haii Via!" sapa seorang gadis berdagu tirus.
Gadis yg dipanggil 'Via' tadi menoleh. "Hai juga, Fy." sahut Via & kembali memandang kearah lapangan futsal.
Ify duduk disamping Via. Ify mengikuti arah pandangan Via. Saat Ify tau siapa yg Via lihat, Ify mendesah pelan. "Alvin lagi?" tanya Ify yg membuat Via tersentak kaget. "Apaan, sih? Jangan sok tau, deh!" elak Via.
"Lupain Alvin, Vi.. Bukan maksud gue untuk membatasi kebebasan lo menyukai seseorang. Tpi bayangin. Lo udah suka sama Alvin berapa lama? 6 tahun, Vi! Dan apa yg dia kasih ke elo? Gak ada!" ujar Ify.
Via menunduk. Air matanya sudah hampir menetes. Itu benar. Via sudah menyukai Alvin selama 6 tahun.
Melihat Via yg hanya diam, Ify kembali melanjutkan. "Vi, gue tau rasanya jadi elo. Tanpa gue ceritain, lo pasti udah tau. Gue cuma gak mau elo ngerasa apa yg gue rasain. Cukup gue aja yg ngerasain sakitnya, Vi. Jangan elo lagi.." ujar Ify lagi. Mata Ify berkaca-kaca. Ify menahan tangisnya.
Air mata yg Via tahan daritadi akhirnya keluar membuat aliran sungai kecil di pipi chubbynya. "Gue.. Gue gak tau, Fy. Gue benci Alvin. Tpi gue juga sayang sama dia.. Gue bingung, Fy." isak Via.
Ify menguatkan dirinya untuk tidak ikut menangis. "Vi, Alvin selalu nganggep lo nggak ada. Dia nggak pernah ngeliat kebaikan elo ke dia selama ini. Gue gak bermaksud untuk menghasut elo. Tpi sebagai sahabat, gue pengen ngeliat elo bahagia," Ify mengambil jeda sebentar. Menahan air matanya yg hampir jatuh. Sedangkan Via hanya mampu terisak. Perkataan Ify memang ada benarnya.
"Lihat Alvin, Vi! Dia malah memilih Shilla yg baru dia kenal daripada elo! Oke, gue ngerti. Mungkin memang susah buat ngelupain orang yg udah 6 tahun lo sayang. Tpi gue mohon, Vi. Lo lupain Alvin.. Gue nggak tega ngeliat elo yg tiap malam nangis gara-gara Alvin.." mohon Ify.
Via memejamkan matanya. "Fy, gue tau maksud lo baik. Thanks buat semua nasihat lo selama ini. Tpi gue juga mohon ke elo, supaya kasih gue waktu buat berfikir untuk mencari jalan yg akan gue tempuh," Via berhenti sejenak. Ia alihkan matanya kearah lapangan futsal. Hatinya teriris saat melihat Shilla yg sedang memberikan sebotol air mineral kepada Alvin yg baru saja selesai latihan futsal. Andaikan...
"Gue pengen sendiri dulu. Gue mau berfikir mana jalan yg terbaik buat gue." lanjut Via. Sedetik kemudian, Via beranjak meninggalkan Ify sendirian.
Ify memandang punggung Via yg semakin menjauh. "Gue tau lo tulus sayang sama Alvin, Vi. Lo berbeda dengan cewek2 lain. Gue harap, Alvin gak akan menyesal udah sia-siain elo." lirih Ify pelan.
***
Via menatap langit2 kamarnya. Mengingat kisahnya selama 6 tahun ini. Ia kembali teringat kata2 Ify. Via menghela nafas pelan. Ia mengambil dompetnya yg berada diatas nakas. Via membuka dompetnya, & mengambil sebuah foto yg berada didalamnya. Foto Alvin.
"Kapan gue bisa kayak Shilla, Vin?" lirih Via. "Yang selalu lo perhatiin, yang selalu lo sayangin, yang-" Air mata Via menetes. Via tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Gue benci elo, Vin! BENCI!" teriak Via tertahan. Air matanya mengalir semakin deras.
"Tapi gue gak tau gimana menunjukkan rasa benci gue itu.." lirih Via pelan.
Via menghapus air matanya. Via merobek foto Alvin yg berada ditangannya. "Gue udah cari jalan untuk bisa lupain lo, Vin. Dan sepertinya... Gue udah tau jalan keluarnya." ujar Via.
"Gue akan pergi dari kehidupan lo"
***
Via berjalan kearah ruang keluarga tempat orang tuanya berada. Via merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Kakaknya yang bernama Irva sedang melanjutkan kuliah di London. Dan itu salah satu alasan ia sangat dekat dengan Ify.
"Ma, Pa, Via mau ngomong sesuatu" ujar Via sambil duduk disamping sang mama.
"Ngomong apa, sayang?" tanya mama Via lembut.
Via menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Via mau ngelanjutin kuliah ke London kayak kak Irva." ujar Via pelan.
Papa & mama Via tampak kaget. "Apa kamu yakin, sayang? Kakakmu akan tinggal disana.." papa Via bersuara.
Via mengangguk. "Via yakin, pa. Kalau papa & mama bolehin, Via juga mau tinggal di London bareng kak Irva. Via pengen ngejar cita-cita Via disana." jawab Via mantap. 'Dan untuk melupakan Alvin' batinnya melanjutkan. Tekadnya sudah bulat.
Orang tua Via saling berpandangan. "Oke. Klu itu mau kamu, mama & papa mengizinkan kamu untuk tinggal disana." ujar papa Via.
Mata Via berkaca-kaca. Lalu ia memeluk kedua orang tuanya. "Makasih pa, ma. Via janji, akan sering2 pulang ke Indonesia."
***
Ujian Nasional telah dilaksanakan oleh murid2 SMA seluruh Indonesia. Banyak diantaranya yang mulai bernafas lega. Seperti murid2 ALANA HIGH SCHOOL. Mereka mulai bisa untuk kembali bersantai. Sekedar untuk berkumpul/berbincang.
"Vi, apa lo yakin untuk ngelanjutin kuliah sekaligus pindah ke London?" tanya Ify yg sedang duduk dibangku taman kota bersama Via.
"Tekad gue udah bulat, Fy. Lagipula, papa gue udah ngurus kepindahan gue ke London." jawab Via.
"Gue pasti akan kangen bget sama lo, Vi." ujar Ify.
Via menatap Ify, lalu memeluknya. "Thanks, Fy. Thanks buat support lo selama ini. Lo sahabat terbaik gue. Gue juga pasti kangen bget sama elo. Lo udah jadi kakak kedua buat gue." isak Via. Ify ikut menangis.
"Gue akan ikutin semua nasehat lo selama ini." lanjut Via.
Ify melepaskan pelukannya. "Gue pegang janji lo!"
***
#MalamKelulusan
Malam ini, ALANA HIGH SCHOOL mengadakan Promnight untuk perpisahan kelas XII.
"Ifyyyyy!!" teriak Via saat memasuki aula indoor.
"Haiiii" sahut Ify.
"Cieee, cantik bget lo malam ini." puji Ify ke Via.
"Lo juga, kok." jawab Via. Keduanya lalu berjalan mendekati panggung karena acara telah dimulai.
Di panggung terlihat Alvin yg sedang memberi kata sambutan singkat sebagai perwakilan kelas XII. Setelah memberi kata sambutan, Alvin turun dan berjalan kearah Shilla sambil tersenyum.
Via hanya tersenyum miris melihat hal itu. Ify menepuk bahu Via pelan. Membuat Via tersentak kaget. "Kenapa, Fy?" tanya Via.
Ify menghela nafas. "Jangan liatin Alvin terus. Ntar hati lo tambah sakit, Vi." ujar Ify.
"Nggak kok, Fy. Gue cuma mau liat Alvin utk terakhir kalinya, sebelum gue pergi ke London." sahut Via lirih.
Ify menatap Via. "Btw, lo kpan berangkat ke London?" tanya Ify.
"Besok, Fy." jawab Via.
Ify terkejut. "Besok?! Cepet banget?!"
Via terkekeh. "Lebay ah lo. Iya. Soalnya gue udh diterima disalah satu university di London. Gue ambil design interior." sahut Via.
Ify mengangguk pelan. "Yaudah. Semoga lo bisa sukses & bisa meraih cita-cita lo. Jangan pernah lupain gue ya!" ujar Ify sambil memeluk Via dengan erat.
Via balas memeluk Ify. "Yes, I promise." janji Via. Dalam diam, Via menangis di pelukan Ify. Sungguh, ia sangat berat meninggalkan Indonesia. Tpi demi meraih cita-citanya, ia rela meninggalkan tempat kelahirannya ini.
"Tuhan, tolong lindungi orang-orang yang aku sayang. Aku janji, aku akan memberikan yang terbaik untuk mereka."
----------------
AKHIRNYAAAAAA!!!
Ini cerpen selesai juga :3
Btw, rencananya bakal buat sequel buat nih cerpen.
Doain aja deh yaa ;3
Hihi
Buat cerbung/cerpen yg belum gue lanjut, secepatnya bakal gue lanjut
Tunggu UAS selesai dulu XD

0 komentar:
Posting Komentar